Belum hilangnya wabah covid-19 dari negara kita, bencana dan musibahpun terjadi, seperti terjadinya tanah longsor di Sumedang Jawab Barat, Jatuhnya Pesawat Udara, Banjir di Kalimantan Selatan, Gempa Bumi di Sulawesi Barat,  erupsi gunung semeru di Lumajang Jawa Timur,  banjir, dan banjir bandang di puncak Bogor yang belum lama ini terjadi.

Bencana dan musibah yang saat ini terjadi tidak hanya menimbulkan kerusakan rumah dan bangunan, akan tetapi juga menimbulkan korban jiwa, dan korban luka-luka. Semoga musibah yang terjadi saat ini menjadi peringatan  untuk diri kita, yang saat ini masih diberikan perlindungan dan penghidupan oleh Allah SWT agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita Kepada Allah SWT.

Ditengah bencana alam yang terjadi saat ini, ternyata masih ada saja orang yang melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan berakibat merugikan orang lain, seperti melakukan penjarahan.  Penjarahan adalah pengambilan barang secara paksa dan merupakan salah satu bagian dari pencurian.  Penjarahan terhadap toko, pasar swalayan, dan mobil pembawa bantuan logistik ditengah bencana tentu sangat memprihatinkan, entah karena terpakas sekedar untuk menghilangkan lapar dan bertahan hidup, atau memang karena sifat serakah manusia yang sengaja mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi ditengah bencana.

Kalau penjarahan atau mengambil barang secara paksa dilakukan hanya sekedar untuk memenuhi perut yang lapar, kemudian tidak ada pilihan lain, dan dalam kondisi darurat hanya untuk mempertahankan hidup, maka dapat dimaklumi, paling tidak pihak berwajib mempunyai kebijaksanaan dalam menindak pelaku penjarahan, walaupun pada dasarnya mengambil barang milik orang lain dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Akan tetapi jika penjarahan tersebut dilakukan untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri, dan kemudian menimbun hasil jarahannya, maka hal demikian tidak dibenarkan.

Menjarah barang-barang yang bukan termasuk kebutuhan pokok atau bahan makanan seperti mejarah barang-barang elektronik, menjarah atm, menjarah toko-toko kelontong, dan lain-lain, maka dapat dikenakan pidana, karena secara umum mengambil suatu barang dengan maksud untuk dimiliki barang/benda tersebut untuk dirinya secara melawan hukum, jelas melanggar undang-undang, terlebih tindak pidana penjarahan atau pencurian tersebut dilakukan ditengah terjadinya bencana. Selain itu tindakan penjarahan tersebut dapat menimbulkan keresahan dalam masyarakat.

Pencurian secara umum diatur dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pada Pasal 362 dikatakan “Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah.” Denda ini jika dikonversi menjadi 9.000.000,- (sembilan juta rupiah). Hal ini berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyelesaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP. Ini masuk dalam pecurian biasa.

Akan tetapi jika pencurian dilakukan dalam kondisi bencana seperti pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang, maka pelaku dapat dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 363 ayat (1) butir 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu pencurian dengan pemberatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.